Senin, 05 Desember 2016

FENOMENOLOGI



FENOMENOLOGI
Fenomenologi mengemukakan bahwa kita harus memperkenalkan gejala-gejala dengan menggunakan intuisi. Kenyataan atau realisasi tidak harus didekati dengan argumen-argumen, konsep- konsep, dan teori umum, maupun dengan menggunakan pendekatan empiris seperti dengan observasi dan eksprimen. Didalam fenomenologi lebih menunjukkan suatu merode dalam filsafat dibandingkan dengan suatu ajaran. 
Edmund hussert
Hussert mencoba menyususun metode yang menyikapkan seolah-olah memperlihatkan keadaan hakiki pada tiap-tiap objek pengetahuan yang mungkin ada, tanpa dicampuri dengan refleksi  dan pengetahuan serta pengalaman sedikitpun sebelumnya. Hussert mencoba menguraikan objek yang dilihatnya yang diluar dengan melepaskan pretensi, bahwa ia sanggup menerangkan segala sesuatu tentang objek tersebut, ia mengabaikan realisasi yang cocokdengan objek tersebut, ia juga melepaskan kepribadiannya yang sebelumnya dapat menghalangi untuk membuka tabir dari objek yang ia amati, ia mencoba melepaskan segala sesuatu yang bukan inti. 
Fenomenologi sanggup memberi bahan-bahan pengertian yang murni, yang perlu sebagai dasar bagi segala pemikiran filsafat oleh para penganutnya, fenomenologi dianggap sebagai ilmu dasar. 
Untuk mendapatkan pengetahuan yang benar, ialah dengan menggunakan intuisi langsung, karena dapat dijadikan kriteria terakhir dalam filsafat. Jadi kesadaran harus dijadikan sebagai dasar filsafat. Menurut hussert fenomenologis sebenarnya merupakan teori tentang fenomena, ia mempelajari apa yang  tampak atau apa yang menampakkan diri atau fenomena. 
Scheler 
Bagi scheler, metode fenomenologis sama dengan suatu cara tertentu untuk memandang realitas. Fenomenologi lebih merupakan sikap, bukan suatu prosedur khusus yang diikuti oleh pemikran (diskusi, induksi, observasi, dan lain-lain teknik bberfikir). Dalam sikap ini kita mengadakan hubungan langsung dengan realistis berdasarkan intuiasi. Dimana scheler menyebutkan hubungan tersebut dengan “pengalaman fenomenologis”. 
Menurut shceler ada tiga fakta yang memegang peranan penting dalam pengalaman fenomenologis, yaitu :
1.      Fakta natural. 
2.      Fakta ilmiah. 
3.      Fakta fenomenologis. 

IDEALISME JERMAN



IDEALISME JERMAN

Di jerman muncul filosof- filosof  yang bermaksud meneruskan filsafat kant yaitu : ficte, f. Scelling, dan hegel. Namun filsafat meereka tidak utuh filsafat kant, malah mereka pada akhirnya mereka mempersoalkan metafisika. Maka mereka lebih dikenal dengan sebutan idealisme, karena memprioritaskan ide-ide. 
Dari ketiga tokoh diatas, hegel merupakan tokoh yang paling menonjol.Hegel menguraikan filsaafatnya dengan menggunakan metode dialetik. Dengan metode dialetiknya, hegel dapat menganalisis bahwa dalam kehidpuan sehari-hari dalam masyarakat terjadi dialetika. Kalau ada suatu kegiatan yang ekstrim kiri misalnya, maka akan timbul suatu kegiatan atau tindakan yang bertentangan dengan tindakan semula ekstrem kanan, yang pada akhirnya akan timbul kompromi, yang memudahkan antara ekstrem kiri dan ekstrem kanan. 
Kalau kita telusuri filsafat sebelumnya, maka teori dialetika itu dapat berpengaruh dari aristoteles dan kant. Aristoteles sudah menggunakan teori dialetik tersebut dalam menguraikan etikanya. Menurut aristoteles, dalam kehidupan manusia akan mencapai kebahagiaan, kebahagiaan tersebut akan tercapai kalau manusia bertindak secara moderat, berdiri ditengah-ditengah, berusaha untuk mempersatukan antara ekstrem kanan dan ekstrem kiri. Begitu pla kant, jasanya dalam mensintesiskan mengenai sumbangan pengetahuan antara dua pandangan yang bertentangan antara empirisme dan rasionalisme. Maka dialetikahegel sebetulnya sebagai pengaruh dari aritoteles dan immanuel kant. Dalam kemasyarakatan, ia termasuk salah seorang yang mempelopori perkembangan sosiologi kearah ilmu yang berdiri sendiri. Menurut hegel negara dan masyarakat hanya sebagai stadium atau tingkat-tingkat penjelmaan cita-cita manusia dalam perkembangan dialetisnya, sebagai cita-cita objektif manusia, yaitu cita-cita leluhur manusia tentang hukum, moral, kesusilaan. Cita-cita tersebut melalui berbagai perkemangan dalam sejarah, namun dapat diselidiki secara logis dengan metode berfikir yang dealektif. 
Yang dimaksud dengan perkembangan secara dialektif ialah perkembangan yang terjadi karena pertentangan-pertentangan suatu faktor yang pertama yang terjadi disebut these, akan menimbulkan faktor lain yang disebut anti these, sebagai penentangannya. Sebagai hasil penentangannya antara these dengan anti these, muncullah yang disbut synthese, yang merupakan perpaduan antara thesedan anti  these. Hasil synthese ini itu jelas akan memiliki beberapa ciri atau sifat-sifat dari these dan anti these. Setiap peristiwa dalam sejarah akan menimbulkan benih peristiwa lain yang bertentangan. Demikian pula pada hegel. 

CIRI-CIRI FILSAFAT DEWASA INI (ABAD XIX DAN XX)



CIRI-CIRI FILSAFAT DEWASA INI (ABAD XIX DAN XX)

Filsafat dewasa ini adalah pikiran-pikiran manusia yang tumbuh pada abad ke-19 dan ke-20. Pada peride ini filsafat makin berkembang, dan ditandai dengan kembangnya ilmu- ilmu, yang secara berangsur-angsur memisahkan antara filsafat dengan ilmu. Pengertian science tidak hanya menunjukkan ilmu-ilmu kealaman saja, melainkan juga termasuk ilmu sosial, seperti sosiologi, psikologi, antropologi, dan psikologi sosial, sehingga akhirnya dibedakan antara natural sciences, dan social science
      Adapun ciri- ciri yang terjadi pada abad ke-19 harun hadiwijono yang dikutip oleh h. Burhanuddin salam , mengemukan sebagai berikut : 
1.                  Daerah tempat filsafat berkembang menjadi luas, termasuk Amerika dan uni soviet memberi sumbangannya. 
2.                  Ilmu pengetahuan berkembang cepat sekali, terlebih-lebih lagi dalam bidang geologi, biologi dan kimia organis. 
3.                  Produksi yang dihasilkan mesin-mesin sangat mengubah manusia dan memberikan  kepada manusia suatu kosepsi baru tentang kuasa dalam hubungan alam dan sekitarnya. 
4.                  Baik bidang filsafat maupun dibidang politik ada suatu revolusi yang mendalam terhadap sistem-sistem tradisional dalam pemikiran, dalam politik dan ekonomi, yang mengakibatkan adanya serangan-serangan terhadap kepercayaan dan lembaga-lembaga yang hingga sekarang dipandang tak tergoyahkan. 
5.                  Suatu faktor baru yang tampak pada zaman ini ialah dominasi jerman secara intelektual dimulai oleh kant. Idealisme  setelah kant dan yang kemudian, besar sekali pengaruhnya terhadap sejarah di jerman. 
6.                  Pada abad ke-17 dikuasai oleh pemikiran galileo dan newton, maka pada abad ke-19 pengaruh darwin besar sekali. 
Pada zaman modern muncul pandangn-pandangan naturaslitik seperti linnacusmemberikan sumbangan yang berharga kepada botani dengan sistem klasifikasinya yang terkenal. Kemudia Buffon percaya bahwa binatang secara langsung dipengaruhi oleh lingkungannya. Sedangkan lamarck (1744 – 1829 ) mengemukakan pandangannya  yang menekankan pentingnya adaptasi dari setiap organisme terhadap lingkungannya. 
Yang mempengaruhi pandangan darwin ialah lyell dan mahhus. Lyell mengemukakan bahwa didunia diciptakan bukan karena kekuatan supernatural melainkan karena cara geologisnya saja. Maltus dengan teorinya tentang penduduk, mengemukakan bahwa dimana-mana manusia dihadapkan kepada perjuangan untuk hidup, karena persedian makan secara ilmiah tidak akan mencukupi perkembangan jumlah penduduk secara ilmiah pula. 
Dengan  teori evolusinya, darwin berpendapat bahwa kehidupan makluk hidup, berkembang dari species yang tidak sempurna kepada spesies yang kompleks, kepada kehidupan yang lebih tinggi dan yang sempurna. Dalam perjalanan menuju ke tingkat yang lebih tinggi itu berlaku rumus, “survival of the fiitest”, hanya yang kuat yang dapat hidup. 
Teori evolusi darwin memberi dorongan baru dalam studi sosiologi. Seperti kehidupan organisme yang ditentukan oleh lingkungannya, manusia dipandang sebagai bagian dari lembaga- lembaga sosial. 
Makin banyak para ahli sosiologi menyadari bahwa lembaga-lembaga tersebut berada dalam perkembangan yang tidak ada wujudnya. Karena itu bukan sosiologi menurut pengikut darwin tidak berlaku hukum-hukum absolut yang pasti berlaku sepanjang masa. Teori itu nantinya banyak memberikan pengaruh terhadap pragmatisme dari jhon dewey