Minggu, 27 November 2016

PERKEMBANGAN FILSAFAT ILMU

PERKEMBANGAN FILSAFAT ILMU

Filsafat ilmu sebagai bagian integral dari filsafat secara keseluruhan perkembangannya tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan filsafat itu sendiri secara keseluruhan. Menurut Lincoln Cuba, sebagai yang dikutip oleh Ali Abdul Azim, bahwa kita mengenal tiga babakan perkembangan paradigma dalam filsafat ilmu di Barat yaitu era prapositivisme, era positivisme dan era pasca modernisme. Era prapositivisme adalah era paling panjang dalam sejarah filsafat ilmu yang mencapai rentang waktu lebih dari dua ribu tahun. Dalam uraian ini, penulis cenderung mengklasifikasi perkembangan filsafat ilmu berdasarkan ciri khas yang mewarnai pada tiap fase perkembangan. Dari sejarah panjang filsafat, khususnya filsafat ilmu, penulis membagi tahapan perkembangannya ke dalam empat fase sebagai berikut:
1. Filsafat Ilmu zaman kuno, yang dimulai sejak munculnya filsafat sampai dengan munculnya Renaisance.
2. Filsafat Ilmu sejak munculnya Rennaisance sampai memasuki era positivisme
3. Filsafat Ilmu zaman Modern, sejak era Positivisme sampai akhir abad kesembilan belas
4. Filsafat Ilmu era kontemporer yang merupakan perkembangan mutakhir Filsafat Ilmu sejak awal abad keduapuluh sampai sekarang.
Perkembangan Filsafat ilmu pada keempat fase tersebut akan penulis uraikan dengan mengedepankan aspek-aspek yang mewarnai perkembangan filsafat ilmu di masanya sekaligus yang menjadi babak baru dan ciri khas fase tersebut yang membedakannya dari fase-fase sebelum dan atau sesudahnya. Di samping itu penulis juga akan mengungkap tentang peran filosof muslim dalam perkembangan filsafat ilmu ini, walaupun bukan dalam suatu fase tersendiri.



MANUSIA DAN KEBENARAN

MANUSIA DAN KEBENARAN

Manusia mencari kebenaran dengan menggunakan akal sehat (common  sense)   dan dengan ilmu pengetahuan. Letak  perbedaan  yang  mendasar  antara  keduanya  ialah  berkisar  pada  kata  “sistematik”  dan  “terkendali”.  Ada  lima  hal  pokok  yang  membedakan  antara  ilmu  dan  akal  sehat.  Yang  pertama,  ilmu  pengetahuan  dikembangkan  melalui  struktur-stuktur  teori,  dan  diuji  konsistensi  internalnya.  Dalam  mengembangkan  strukturnya,  hal  itu  dilakukan  dengan  tes  ataupun pengujian  secara  empiris/faktual.  Sedang  penggunaan  akal  sehat  biasanya  tidak.  Yang  kedua,  dalam  ilmu  pengetahuan,  teori  dan  hipotesis  selalu  diuji  secara  empiris/faktual.  Halnya  dengan  orang  yang  bukan  ilmuwan  dengan  cara  “selektif”.  Yang  ketiga,  adanya  pengertian  kendali  (kontrol)  yang  dalam  penelitian  ilmiah  dapat  mempunyai  pengertian  yang  bermacam-macam.  Yang  keempat,  ilmu  pengetahuan  menekankan  adanya  hubungan  antara  fenomena  secara  sadar  dan  sistematis.  Pola  penghubungnya tidak  dilakukan  secara  asal- asalan.  Yang  kelima,  perbedaan  terletak  pada  cara  memberi penjelasan  yang  berlainan  dalam  mengamati  suatu  fenomena.  Dalam  menerangkan  hubungan  antar  fenomena,  ilmuwan  melakukan  dengan  hati-hati  dan  menghindari  penafsiran  yang  bersifat  metafisis.  Proposisi  yang  dihasilkan  selalu  terbuka  untuk  pengamatan  dan  pengujian  secara  ilmiah. 


KEHIDUPAN DAN PERJUANGAN

KEHIDUPAN DAN PERJUANGAN

Kehidupan itu berlangsung di dalam suatu proses yang terus-menerus bekerja dan terus menerus menjadi.  Bahkan dari evolusi diketahui bahwa sebelum kehidupan ada di semesta ini, proses menjadi terus terjadi. Dari data yang ada diketahui bahwa perubahan dan pembentukan struktur tanah, bebatuan terus terjadi. Bahkan bumi dialami terus menerus memperbaharui dirinya dalam bentukbentuk tertentu seperti pergeseran lempengan bumi yang kemudian muncul dalam bentuk gejala alam seperti tsunami, gunung, munculnya benua baru dan hilangnya atau penurunan daratan. Proses yang terus menerus menjadi inilah yang  disebut perjuangan.
Sebagai bagian dari keseluruhan ciptaan, kehidupan manusia juga berlangsung dalam perjuangan. Dalam awal terbentuknya, lahir, hidup sampai mati, kehidupan manusia diwarnai perjuangan. Dari sejak bayi manusia telah berjuang menggerakkan tangan dan kaki, membolak balikkan badan, tengkurap, merangkak, duduk, berdiri, berjalan dan berlari. Sampai pada titik tersebut saja, tentu sudah tidak terhitung lagi berapa kali seorang anak manusia gagal dan mengalami kesakitan. Tetapi sebagai anak, pengalaman semacam itu tidak pernah membuatnya untuk berhenti mencoba. Bahkan dengan perjuangan itulah seorang anak manusia menjadi lebih hebat. Bila manusia mengalami kemajuan dan kesuksesan yang diperolehnya saat ini, baik secara individual maupun secara kelompok, hal itu karena perjuangan manusia sebelumnya. Dengan kata lain, kemajuan apapun yang telah dicapai oleh manusia hingga saat ini, bahkan yang tidak pernah terbayangkan.
Dengan adanya tanggapan kritis dari beberapa segi ini, menunjukkan bahwa ajaran Kaum Stoa tentang takdir, kendati memiliki beberapa kekuatan namun juga memuat beberapa kelemahan dan masalah hakiki bagi kehidupan yang dalam perjalanan filsafat hingga sekarang sering semakin sadar bahwa yang disebut penemuan baru itu muncul dari suatu usaha mencoba-salah dan mencoba lagi.  Dengan kata lain penemuan itu ada karena adanya perjuangan yang tidak mengenal lelah untuk terusmenerus mencoba, baik orang per orang maupun kelompok orang.
Menurut Stoltz (2005,19) individu yang bertahan dalam menghadapi setiap tantangan dan kesulitan hidup adalah pribadi-pribadi pejuang atau pendaki, yang selalu terus-menerus berusaha untuk:
1.      Mendapatkan selalu yang terbaik dari kehidupan.
2.      Membaktikan diri mereka pada pertumbuhan dan belajar seumur hidup.
3.      Tertantang untuk berkontribusi terhadap kehidupan ini.
4.      Tidak takut untuk menjelajahi segala kemungkinan dan potensi tanpa batas yang ada di antara manusia.
5.      Menyambut baik setiap perubahan tanpa pernah melepaskan tanggung jawab.

6.      Mereka terus berjuang, mencari dan menemukan pertumbuhan dan perbaikan seumur hidup.

Minggu, 20 November 2016

KEJADIAN DAN TAKDIR

KEJADIAN DAN TAKDIR

Kejadian-kejadian dalam hidup ini sudah ditentukan oleh Allah. Argumentasi pernyataan ini dapat muncul dalam rumusan berikut ini:  karena Allah adalah Mahakuasa maka pastilah Ia mampu menentukan kejadian-kejadian sebelum kejadian-kejadian itu sendiri. terjadi.  Zenon (333 - 262 SM) adalah seorang filsuf Yunani kuno pendiri aliran filsafat Stoa. Nama Stoa diambil dari kata Yunani Stoa poikile atau tiang-tiang pilar penuh hiasan yakni tempat para filsuf berkumpul dan berdiskusi. Para pengikut aliran stoa atau Kaum Stoa sudah mendiskusikan masalah takdir yang kemudian menyulut perdebatan di antara para filsuf sezamannya. Beberapa pendapat dan ajaran kaum stoa, antara lain:
1.             Segala sesuatu telah ditetapkan oleh Sang Pencipta, yang menentukan keteraturan segala sesuatu dengan mantap dan mengarahkannya pada tujuan yang telah ditetapkan sejak semula. Keteraturan yang mantap segala sesuatu ini disebutnya sebagai takdir/nasib, sedangkan keterarahan segala sesuatu pada tujuan yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta disebut sebagai penyelengaraan. Selanjutnya, dalam jagad raya tidak ada sesuatu pun bisa luput dari keberlakuan mutlak hukum takdir ini.
2.             Ada ajaran tentang keharusan mengikuti hukum takdir ini dimana manusia hendaknya mengikuti saja suratan takdir dan penentuan nasib bagi dirinya. Dengan demikian ia akan mencapai keselarasan dengan takdirnya akan membawanya kepada kebahagiaan. Kalau pun manusia mencoba melawan hukum takdir, usaha itu tak akan berhasil, karena akibatnya ia akan susah sendiri. Jadi hukum takdir itu harus ditaati, terlepas dari perasaan senang atau tidak senang, menguntungkan atau merugikan.
3.             Kebebasan manusia tidak berarti bahwa manusia bebas dari takdir melainkan bahwa ia secara sadar dan rela menyesuaikan diri dengan hukum alam yang tidak terelakkan itu. Bila manusia telah menerima dengan sadar dan rela apa yang telah disuratkan padanya oleh takdir, maka tidak akan terjadi sesuatu yang melawan kehendaknya. Dengan kata lain ia seluruhnya bebas, sebab ia telah menentukan dirinya sendiri dan tidak merasakan hukum alam sebagai unsur luar dirinya melainkan sebagai unsur yang telah menyatukan dengan dirinya.
4.             Tujuan hidup kaum Stoa adalah hidup selaras dengan takdir. Untuk mencapai tujuan itu, orang yang bijaksana akan membebaskan dirinya dari segala kecenderungan dan dorongan tak teratur. Orang yang hidup tanpa nafsunafsu yang menggoncangkan akan mengalami ketenangan hidup. Jika upaya ini berhasil, nikmat atau sakit  baginya sama saja. Dalam penderitaan, Kaum Stoa masih bisa merasa kesejukan dan ketenangtentraman hati.
5.             Dalam kehidupan sehari-hari dapat saja terjadi orang dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak dapat di terima karena secara emosional ia tidak mampu lagi menanggungnya. Misalnya, suatu niat penuh tanggung jawab untuk memperbaiki sistem admisnistrasi negara tetapi menemui jalan buntu. Berhadapan dengan situasi itu, Kaum Stoa menawarkan pilihan terakhir, bunuh diri! Daripada mengambil sikap yang tidak sesuai dengan keseimbangan batin dan takdir maka lebih baik bunuh diri dengan sepenuh kesadaran dan dengan segala ketenangan. Ajaran itu bahkan dipraktekkan oleh Zenon sendiri dengan bunuh diri lantaran mengalami luka berat setelah jatuh.


Jumat, 18 November 2016

ASPEK EPISTEMOLOGI FILSAFAT FORMALISME



ASPEK EPISTEMOLOGI FILSAFAT FORMALISME

Pengetahuan matematika merupakan keyakinan yang terbuktikan atau lebih tepatnya merupakan pengetahuan proposisional yang memuat proposisi proposisi yang diterima, dan tersedia landasan yang cukup untuk melakukan asersi. Matematika adalah pengetahuan a priori, karena memuat proposisi yang diasersi melalui pemikiran, menggunakan logika deduktif dan definisi, konjungsi, aksioma atau postulat metamatika, sebagai dasar untuk memperoleh pengetahuan matematis. 
Pendekatan yang lebih luas yang dapat diadopsi secara epistemologi, mendasarkan pada asumsi bahwa pengetahuan dalam matematika dinyatakan dengan sebuah himpunan proposisi, bersama-sama dengan sebuah himpunan prosedur untuk pembuktian proposisi, sehingga tersedia jaminan untuk melakukan asersi. Berdasarkan hal ini, pengetahuan matematika terdiri dari seperangkat himpunan proposisi bersama-sama dengan pembuktiannya. Karena pembuktian matematika didasarkan pada cara berpikir, dan tidak menggunakan fakta-fakta empiris, maka pengetahuan matematika adalah pengetahuan yang bersifat paling pasti dari seluruh pengetahuan yang ada di dunia. Layaklah jika secara agak anarkis matematika menyebut dirinya sebagai dewa pengetahuan yang hanya mau mematuhi aturan yang dibuatnya sendiri.

FILSAFAT FORMALISME



FILSAFAT FORMALISME
                                                      
Aliran formalisme dalam matematika dapat dilacak pada Bishop Berkeley, tetapi pencetus utamanya adalah David Hilbert (1862-1943), pada tahun 1925, diteruskan oleh J. Von Neumann tahun1931 dan H. Curry tahun 1951. Aliran Formalisme banyak dianut oleh matematikawan Amerika akibat pengaruh Oswald Veblen dan V.E. Huntington. Aliran ini sering disebut aliran postulatsional atau aliran aksiomatik dan dalam pendidikan matematika melahirkan jenis matematika yang disebut matematika modern (New Math) seperti yang sekarang diberikan di sekolah-sekolah.
Formalisme dibentuk dengan tujuan khusus menyingkirkan semua kontradiksi dalam matematika, antara lain mengatasi paradok dalam teori himpunan (Paradok Russel/Paradok Tukang Cukur) dan untuk menyelesaikan tantangan matematika klasik yang disebabkan oleh kritik kaum Intuisionis. Dengan kata lain aliran formalisme bertujuan untuk menterjemahkan seluruh matematika ke dalam sistem formal yang tidak dapat diinterpretasikan (kosong dari arti). 
Aliran formalisme menganjurkan pendekatan murni abstrak, berangkat dari prinsip awal, dan mendeduksi segalanya dari prinsip awal tersebut. Karyakarya yang dihasilkannnya sama sekali tidak mempunyai (dan memang tidak perlu mempunyai) hubungan dengan ilmu pengetahuan dan dunia nyata, sesuatu yang sangat membanggakan aliran ini. Menurut aliran formalisme, matematika sekedar rekayasa simbol berdasarkan aturan tertentu untuk menghasilkan sebuah sistem pernyataan tautologis, yang memiliki konsistensi internal, tetapi kosong dari makna. Matematika direduksi hanya menjadi sebuah permainan intelektual, seperti catur. Dalam bahasa populer, formalisme memandang matematika sebagai permainan formal penuh makna yang dimainkan dengan lambang-lambang di atas kertas menggunakan aturan tertentu. 
Kaum formalis memandang matematika sebagai koleksi perkembangan abstrak, dimana term-term matematika semata-mata hanyalah lambang-lambang dan pernyataan adalah rumus-rumus yang melibatkan lambang-lambang tersebut. Dasar untuk aritmatika tidak terletak pada logika tetapi pada koleksi tanda-tanda pralogis atau lambang-lambang dalam seperangkat operasi dengan tanda-tanda ini. Oleh karena itu, menurut aliran Formalisme, matematika kosong dari muatan konkrit dan hanya memuat elemen-elemen lambang ideal, sehingga membangun kekonsistenan dari berbagai cabang matematika menjadi sangat penting. Tanpa disertai bukti kekonsistenan, seluruh penyelidikan matematika tidak berarti sama sekali. Dengan tesis kaum formalis ini, perkembangan matematika aksiomatis terdorong ke puncak kejayaan tertinggi.
  Sebagai akhir dari artikel ini, berikut adalah kritik naratif terhadap filsafat formalisme. Melalui konsep kekontinuan, kaum Formalis menerima kehadiran ketakberhinggaan. Persamaan diferensial menyatakan realitas sebagai sebuah kontinum, sehingga perubahan dalam ruang dan waktu dipahami terjadi secara mulus dan tak terputus. Akibatnya tidak tersedia ruang untuk perubahanperubahan yang terjadi secara mendadak. Kontinuitas adalah perubahan yang mulus dan gradual, bertahap dan tidak mendadak. Dalam persamaan diferensial, waktu dianggap terbagi dalam serangkaian time-step yang kecil, sebagai suatu pendekatan terhadap realitas, meskipun kenyataannya tidak ada hal seperti itu dalam realitas, sebab segalanya mengalir, pantharei, demikian Heraklitus.